Equity

Perbandingan Debt dan Equity, Mana Yang Lebih Baik Untuk Modal Perusahaan?

Perbandingan Debt dan Equity, Mana Yang Lebih Baik Untuk Modal Perusahaan?

Modal dan Kas merupakan bagian krusial dalam operasional perusahaan. Tanpa kas, perusahaan tidak dapat menjalankan aktivitasnya. Untuk memperoleh kas, banyak cara yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan cara menambah utang maupun dengan menambah ekuitas. Perusahaan besar dan kecil memiliki caranya tersendiri untuk dapat menambah kasnya. Berbeda dengan perusahaan skala kecil, perusahaan besar memiliki struktur permodalan yang lebih kompleks. Hal tersebut dikarenakan tingginya kebutuhan akan suntikan dana akibat tingginya nilai dan volume transaksi yang dilakukan. Jika perusahaan kecil hanya mengandalkan uang pribadi maupun utang sebagai sumber pendanaan utama, perusahaan besar memiliki opsi lain yakni dengan menerbitkan surat berharga berupa saham maupun obligasi. Masih ingatkah konsep utama posisi keuangan perusahaan? Ya, konsep pada persamaan dasar akuntansi. A = L + OE (Asset = Liabilities + Owner’s Equity). Rumus tersebut menyiratkan bahwa aset perusahaan berasal dari dua pos utama yakni liabilities (utang) dan owner’s equity (ekuitas pemilik). Jadi, haruskah pemilik melakukan utang (menerbitkan obligasi) ataukah menambah struktur permodalan (menerbitkan saham)? Mana yang seharusnya perusahaan pilih? Untuk memilih satu diantara kedua pilihan tersebut tidaklah mudah. Perlu mempertimbangkan asas biaya dan manfaat dari keputusan yang diambil. Jika pembiayaan dilakukan dengan menerbitkan obligasi (menambah utang), maka perusahaan harus membayar bunga kepada kreditur. Ketidaktepatan waktu ataupun ketidakmampuan perusahaan untuk membayar utang akan berujung panjang bisa sampai ke ranah hukum. Jika pembiayaan diputuskan dengan melakukan penerbitan saham, maka si “pembeli saham” (investor) akan turut andil dalam perusahaan. Hal ini akan menyebabkan manajemen jadi kurang leluasa untuk mengelola perusahaannya. Contoh Kasus : Melihat geliat kondisi perekonomian konsumen yang semakin membaik dan estimasi peningkatan permintaan barang pada beberapa bulan mendatang, produsen memutuskan untuk melakukan peningkatan produksi. Hal tersebut menjadikan perusahaan memutuskan untuk menambah sumber pendanaan dengan meminjam kepada Bank sebesar Rp. 5 miliar dalam jangka waktu pembayaran satu tahun dengan total bunga yang harus dibayar Rp.250 juta. Ini berarti perusahaan menggantungkan sumber modalnya hanya pada utang bank tersebut (satu sumber saja). Setelah beberapa waktu uang tersebut digunakan untuk kegiatan produksi, Jika estimasi perusahaan benar, uang yang dihasilkan sebesar Rp.6 miliar, maka perusahaan mengembalikan uang sebesar Rp.5,25 miliar (pokok utang + bunga) kepada bank, dan Rp.750 juta dinikmati sendiri oleh perusahaan. Jika estimasi perusahaan meleset, uang yang dihasilkan sebesar Rp.5,25 miliar, maka seluruh uang tersebut harus dibayarkan kepada bank (pokok utang + bunga). Pada contoh kasus tersebut, jika perusahaan bisa memperoleh keuntungan di atas biaya pendanaan sebesar Rp.250 juta tersebut, maka selisihnya bisa dinikmati perusahaan seluruhnya. Sebaliknya, jika perusahaan memperoleh keuntungan…